Senin, 23 November 2009

NAVIGASI DARAT


Navigasi adalah suatu teknik untuk menentukan kedudukan dan arah lintasan perjalanan secara tepat, atau navigasi adalah navigasi adalah suatu kegiatan mengontrol arah perjalanan baik di peta maupun di medan sebenarnya dengan tepat hingga sampai ke tujuan. Dalam arti yang lebih sempit, navigasi telah dikenal oleh bangsa-bangsa Aztec, Babylonia dan Bangsa Eskimo tua sejak 4500 tahun yang lalu.

Pada awalnya, istilah navigasi dipakai dalam pelayaran maupun penerbangan, namun dewasa ini telah umum dipakai dalam pengembaraan di gunung, rimba, sungai dan sebagainya. Orang yang bertanggung jawab dalam hal navigasi biasa disebut navigator.

Untuk dapat melakukan perjalanan di alam bebas kita hanya dibantu oleh peta, kompas dan kemampuan berorientasi yaitu usaha memperkirakan / menentukan tempat kedudukan setepat mungkin dengan cara mengamati, mempelajari, mengenali keadaan sekitar selama perjalanan dilakukan.

Menyadari betapa pentingnya ketiga hal diatas, maka timbul pepatah : “peta dan kompas serta kemampuan untuk menggunakannya merupakan tiket ke tempat manapun di alam bebas”.



PETA

Peta adalah gambaran sebagian atau keseluruhan permukaan bumi yang diproyeksikan ke dalam bidang datar dengan metode dan perbandingan tertentu.

Di Indonesia, peta yang lazim digunakan adalah peta keluaran Direktorat Geologi Bandung, lalu peta dari Jawatan Topologi, yang sering disebut sebagai peta AMS (American Map Service) dibuat oleh Amerika dan rata-rata dikeluarkan pada tahun 1960. Peta AMS biasanya berskala 1 : 50.000 dengan interval kontur (jarak antar kontur) 25 m. Selain itu ada peta keluaran Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional) yang lebih baru, dengan skala 1 : 50.000 atau 1 : 25.000 (dengan interval kontur 12,5 m). Peta keluaran Bakosurtanal biasanya berwarna.



Peta berdasarkan isinya dibagi menjadi :


1. Peta Umum; yaitu peta yang memuat kenampakan-kenampakan umum, baik kenampakan fisis maupun kenampakan sosial ekonomi. Peta jenis ini meliputi :

  • Peta Topografi; yaitu peta yang berskala besar dan memuat keterangan yang umum.

  • Peta Chorografi; yaitu peta yang berskala sedang yang menggambarkan daerah yang luas, negara atau benua.

  • Peta Dunia; peta yang digambarkan dengan skala kecil dan meliputi seluruh dunia.

2. Peta Khusus / Thematik; yaitu peta yang menggambarkan kenampakan-kenampakan yang khusus. Peta ini meliputi antara lain : peta militer, peta bintang, peta triangulasi, peta pariwisata, dll.




Peta berdasarkan skalanya digolongkan menjadi :


a. Peta Kadaster

1 : 100 sampai 1 : 5.000

b. Peta berskala besar

1 : 5.000 sampai 1 : 250.000

c. Peta berskala sedang

1 : 250.000 sampai 1 : 500.000

d. Peta berskala kecil

1 : 500.000 sampai 1 : 1.000.000

e. Peta Geografi

1 : 1.000.000 ke atas


Bagian-bagian Peta :


1. Judul; menyatakan lokasi yang ditunjukkan oleh peta yang bersangkutan, biasanya terdapat diatas.

2. Penerbit; menyatakan badan/lembaga yang menerbitkan/mengeluarkan peta.

3. Nomor; sebagai nomor registrasi dari badan pembuat peta, juga berguna sebagai petunjuk bila kita memerlukan peta daerah lain di sekitar daerah yang terpetakan.

4. Tahun; menyatakan waktu pembuatan peta, semakin baru tahun pembuatannya, maka data yang disajikan akan semakin akurat.

5. Legenda; yaitu keterangan singkat mengenai simbol/tanda yang tercantum dalam sebuah peta, dibuat untuk memudahkan pembaca menganalisa peta.

6. Skala/Kedar; yaitu perbandingan jarak antara dua titik tertentu pada peta dengan jarak sebenarnya di lapangan. Untuk menyatakan skala peta ada 3 cara yaitu :

a. skala angka/fraksi

1 : 50.000

b. skala verbal/perkataan

“satu sentimeter dibanding lima puluh ribu sentimeter”

c.

7. Koordinat ; yaitu kedudukan suatu titik di peta. Secara teori, koordinat merupakan titik pertemuan antara absis dan ordinat. Koordinat ditentukan dengan menggunakan sistem sumbu, yakni perpotongan antara garis-garis yang tegak lurus satu sama lain. Sistem koordinat yang resmi dipakai ada dua macam yaitu :

a. Koordinat Geografis (Geographycal Coordinate)

Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (bujur barat dan bujur timur) yang tegak lurus dengan garis khatulistiwa, dan garis lintang (lintang utara dan lintang selatan) yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit dan detik.

Pada peta Bakosurtanal, biasanya menggunakan koordinat geografis sebagai koordinat utama. Pada peta ini, satu kotak (atau sering disebut satu karvak) lebarnya adalah 3,7 cm. Pada peta skala 1 : 25.000, satu karvak sama dengan 30 detik (30”), dan pada peta skala 1 : 50.000, satu karvak sama dengan 1 menit (60”).

Contoh : 114°34’10” BT atau 05°15’17” LS

b. Koordinat Grid (Grid Coordinate atau UTM)

Dalam koordinat grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak setiap titik acuan.Untuk wilayah Indonesia, titik acuan berada disebelah barat Jakarta (06° LU, 98° BT). Garis vertikal diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan horizontal dari barat ke timur.

Sistem koordinat grid mengenal penomoran 4 angka, 6 angka dan 8 angka. Pada peta AMS, biasanya menggunakan koordinat grid. Satu karvak sebanding dengan 2 cm. Karena itu untuk penentuan koordinat grid 4 angka, dapat langsung ditentukan. Penentuan koordinat grid 6 angka, satu karvak dibagi terlebih dahulu menjadi 10 bagian (per 2 mm). Sedangkan penentuan koordinat grid 8 angka dibagi menjadi 10 bagian (per 1 mm).

8. Kontur; yaitu garis khayal yang menghubungkan titik-titik yang berketinggian sama dari permukaan laut atau garis bayangan/imajinasi dari rangkaian titik-titik di lapangan yang mempunyai nilai ketinggian/elevasi yang sama.

Karakteristik Garis Kontur Ketinggian :

1. Garis kontur ketinggian yang lebih rendah selalu mengelilingi garis kontur yang lebih tinggi.

2. Garis kontur ketinggian tidak akan saling berpotongan dan tidak bercabang.

3. Garis kontur ketinggian merupakan kurva tertutup sehingga tidak akan ada yang terputus.

4. Garis kontur ketinggian pada daerah landai/datar akan tergambar renggang/berjauhan sebaliknya garis kontur di daerah curam/terjal akan tergambar rapat.

5. Garis kontur ketinggian yang ujungnya melengkung keluar menjauhi puncak berbentuk “U” menggambarkan punggungan.

6. Garis kontur ketinggian yang ujungnya melengkung kedalam mendekati puncak berbentuk “∩” menggambarkan lembah.

7. Garis kontur ketinggian untuk daerah yang cekung digambarkan garis berbulu.

8. Garis kontur ketinggian antara digambarkan dengan garis terputus-putus.

9. Perbedaan ketinggian antara dua garis kontur yang berurutan (interval kontur) merupakan bilangan tetap.

10. Interval kontur sama dengan skala peta dibagi 2000. Rumus ini tidak berlaku apabila peta tersebut telah di fotocopy perbesar atau perkecil. Jadi cara yang paling mudah mencari interval kontur adalah selisih antara dua indeks kontur yang berdekatan dibagi spasinya adalah harga interval kontur.

KOMPAS

Kompas adalah alat penunjuk arah. Kompas sendiri sudah dikenal sejak 900 tahun yang lalu terbukti dengan diketemukannya kompas kuno yang dipakai pejuang China sekitar tahun 1100 M.

Karena sifat kemagnetannya maka jarum kompas selalu menunjukkan arah utara dan selatan (jika tidak dipengaruhi oleh adanya gaya-gaya magnet lainnya selain magnet bumi). Arah yang ditunjuk oleh jarum kompas adalah kutub utara magnetis bumi yang letaknya tidak bertepatan dengan kutub utara bumi, kira-kira disebelah utara Kanada, di jazirah Boothia sekitar 1400 mil atau sekitar 2250 km. Tapi unyuk keperluan praktis, utara peta, utara sebenarnya dan utara kompas/magnetis dianggap sama.



Menurut kegunaan dan fungsinya kompas dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu :

  • Kompas Orientasi, yaitu jenis kompas yang digunakan untuk orientasi dalam suatu perjalanan (orientering). Contohnya kompas silva.

  • Kompas Bidik, yaitu kompas yang digunakan untuk membidik objek serta arah yang akan kita lalui. Contohnya Kompas Prisma.

  • Geologi, yaitu kompas yang digunakan untuk menentukan arah serta kemiringan dalam pekerjaan geologi. Contoh .Kompas Geologi.

Bagian –bagian kompas antara lain :

  • Badan/Body kompas yaitu tempat melekatnya komponen-komponen kompas.

  • Jarum Kompas Selalu menunjuk arah utara-selatan pada posisi bagaimanapun (dengan syarat tidak dipengaruhi oleh medan magnet lain dan jarum tidak terhambat perputarannya.)

  • Skala kompas, menunjukkan pembagian derajat sistem mata angin.

Cara Penggunaan kompas :

Penggunaan kompas pada prinsipnya yang paling penting diperhatikan adalah kompas harus horozontal, maka pembacaan skala peta melalui garis fisir, sedangkan pada kompas orienteering (misal kompas silva) yang paling penting diperhatikan adalah Utara Kompas harus sejajar dengan Utara peta.

Faktor kesalahan pada sudut bacaan kompas

Penyebab dari kesalahan ini antara lain :

- Karena benturan dengan benda keras.

-Cairan yang terdapat dalam tabung kompas membeku (pengaruh waktau atau cuaca), sehingga jarum atau piringan kompas tidak bergerak bebas.

-Ada kesalahan indeks yaitu penunjuk indeks skala bacaan kompas tidak segaris lurus dengan garis penunjuk arah bacaan.

-Garis penunjuk arah bacaan tidak segaris lurus dengan pisir/garis rambut pembidik objek.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemakaian kompas yaitu :

  • Jauhkanlah dari benda-benda yang mengandung unsur logam seperti golo/parang, pisau, gunting, victorinoks, dll

  • Jauhkan dari benda-benda elektronik seperti : TV, jam tangan, walkman, dll.

  • Sesama kompas dilarang saling berdekatan !!!!


TEKNIK PETA KOMPAS

Sebelum masuk pada teknik peta kompas yang perlu duketahui adalah Azimuth dan Back azimuth. Azimuth adalah sudut antara sasaran terhadap kutub magnetik bumi (sudut kompas) sedangkan Back Azimuth adalh kebalikan dari Azimuth. Cara praktisnya sebagai berikut :

Jika Azimuth < azimuthnya =" Azimuth">

Jika Azimuth >180° maka Back Azimuthnya = Azimuth - 180°


Orientasi Peta

Orientasi Peta yaitu menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya (menyamakan utara peta dengan utara kompas).

Sebelum anda mulai orientasi peta, usahakan untuk mengenal dulu tanda-tanda medan sekitar yang menyolok dan posisinya di peta. Hal ini dapat dilakukan dengan pencocokan nama puncak, sungai desa, dll. Jadi minimal anda tahu secara kasar posisi anda dimana. Orientasi peta ini hanya berfungsi untuk meyakinkan anda bahwa perkiraan posisi anda di peta adalah benar.

Cara-cara orientasi peta antara lain :

- Cari tempat terbuka agar dapat melihat tanda-tanda medan yang menyolok.

- Letakkan peta pada medan datar.

- Samakan utara peta dan utara kompas (peta yang diputar), dengan demikian letak peta akan sesuai dengan bentang alam yang akan dihadapi.

- Cari tanda-tanda medan yang paling menonjol disekeliling dan temukan tanda-tanda tersebut dalam peta. Lakukan untuk beberapa tanda medan.

- Ingat tanda-tanda medan itu, bentuknya tempatnya di medan sebenarnya maupun di peta. Ingat hal-hal yang khas dari setiap benda medan (sifat-sifat garis kontur).




Resection

Resection adalah menetukan posisi kita di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali. Bila kita berada di tepi sungai, sepanjang jalan, atau sepanjang punggungan, maka hanya perlu mencari satu tanda medan yang lainnya yang dibidik.

Langkah-langkah melakukan resection :

1. Lakukan orientasi peta.

2. Cari tanda medan yang mudah dikenali di lapangan dan di peta, minimal 2 buah.

3. Dengan busur dan penggaris, buat salib sumbu pada tanda-tanda medan tersebut.

4. Bidik tanda-tanda medan tersebut dari posisi kita dengan menggunakan kompas bidik.

5. Pindahkan sudut bidikan yang didapat ke peta dan hitung sudut pelurusnya. Lakukan ini pada setiap tanda medan yang dijadikan sebagai titik acuan.

6. Perpotongan garis yang ditarik dari sudut-sudut pelurus tersebut adalah posisi kita di peta.



Intersection

Intersection adalah menentukan posisi suatu titik pada peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali dilapangan tanpa harus ke tempat tersebut.

Langkah-langkah melakukan Intersection adalah :

  1. Lakukan orientasi peta.

  2. Lakukan resection untuk memastikan posisi kita di peta.

  3. Bidik obyek yang kita amati

  4. Pindahkan sudut yang didapat ke dalam peta

  5. Bergerak ke posisi lain dan pastikan posisi tersebut di peta. Lakukan langkah 1 – 3.

6. Perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi yang dimaksud.



Menentukan Arah Tanpa Kompas

  1. Dengan Tanda-Tanda Alam

    • Kuburan Islam Menghadap Utara

    • Mesjid menghadap kiblat, untuk Indonesia menghadap ke barat laut

    • Bagian pohon yang berlumut tebal menunjukkan arah timur, karena sinar matahari yang belum terik pada pagi hari.

  2. Dengan Jarum Jam Arloji

Jika berada di daerah sebelah utara Khatulistiwa, jarum jam diarahkan ke matahari, garis pembagi sudut antara jarum kecil tersebut dengan angka 12 menunjukkan arah utara. Jika berada di daerah sebelah selatan khatulistiwa, caranya sama, hanya yang didapat adalah arah selatan.

  1. Dengan Perbintangan

Perhatikan rasi bintang Crux (Bintang Salib atau Gubuk Penceng). Perpanjangan garis diagonal yang memotong horizon dari tempat kita adalah Selatan.


Penampang Lintasan

Penampang lintasan adalah penggambaran secara proposional bentuk jalur lintasan jika dilihat dari samping, dengan menggunakan garis kontur sebagai acuan. Sebagaimana kita ketahui bahwa peta topografi yang dua dimensi, dan sudut pandangnya dari atas, agak sulit bagi kita untuk membayangkannya bagaimana bentuk medan lintasan yang sebenarnya, terutama menyangkut ketinggian. Dalam kontur yang kerapatannya sedemikian rupa, bagaimana kira-kira bentuk medan sebenarnya. Untuk memudahkan kita menggambarkan bentuk medan dari peta topografi yang ada, maka dibuatlah penampang lintasan


Berapa manfaat penampang lintasan :

1. Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun perencanaan perjalanan

2. Memudahkan kita untuk menggambarkan kondisi keterjalan dan kecuraman medan.

3. Dapat mengetahui titik ketinggian dan jarak dari tanda medan tertentu.

Untuk menyusun penampang lintasan biasanya menggunakan kertas milimeter block, guna menambah akurasi penerjemahan dari peta topografi ke penampang.


Langkah-langkah membuat penampang lintasan :

a. Siapkan peta yang sudah diplot, kertas milimeter blok, pensil mekanik/pensil biasa yang diruncing , penggaris dan penghapus

b. Buatlah sumbu x, dan y. sumbu x mewakili jarak, dengan satuan rata-rata jarak dari lintasan yang anda buat. Misal meter atau kilometer. Sumbu y mewakili ketinggian, dengan satuan mdpl. Angkanya bisa dimulai dari titik terendah atau dibawahnya dan diakhiri titik tertinggi atau diatasnya.

c. Tempatkan titik awal di sumbu x = 0 dan sumbu y sesuai dengan ketinggian titik tersebut. Lalu beda perubahan kontur berikutnya, buatlah satu titik lagi, dengan jarak dan ketinggian sesuai dengan perubahan kontur pada jalur yang akan anda buat. Demikian seterusnya hingga titik terakhir.

d. Perubahan satu kontur diwakili oleh satu titik. Titik tersebut dihubungkan satu sama lainnya hingga membentuk penampang berupa garis menanjak, turun dan mendatar.

e. Tambahkan keterangan pada tanda-tanda medan tertentu, misalkan nama-nama sungai, puncak, dan titik aktivitas anda (biasanya berupa titik bivak/camp dan titik istirahat), ataupun tanda medan lainnya.

Catatan : informasi tentang vegetasi pada setiap lintasan, dan skala penampang akan lebih membantu pembaca dalam menggunakan penampang yang telah dibuat.



Senin, 16 November 2009

BOTANI DAN ZOOLOGI PRAKTIS

Mempelajari botani dan zoology praktis dianggap penting untuk lebih mengenal jenis tumbuhan dan hewan yang dapat dimanfaatkan sebagai makanan darurat (survival food) atau obart-obatan. Selain itu kita dapat mengenal jenis tumbuh-tumbuhan dan hewan yang harus dijauhi karena beracun, berbisa, atau dapat menganmcam keselamatan jiwa. Hal ini penting karena alam Tropis memiliki karakteristik yang berbeda dengan alam Sub Tropis.

Daerah tropis memiliki karakteristik sebagai berikut : Keanekaragaman species yang tinggi tetapi dalam satu species jumlah populasinya rendah. Artinnya harus lebih banyak mengenal keanekaragaman species yang lebih banyak bila dibandingkan dengan yang di Sub Tropis. Selain itu alam tropis dengan jumlah populasi yang tidak terlalu banyak menyebabkan kita harus sedikit berusaha lebih keras lagi guna memanfaatkannya. Yang terakhir cuaca alam tropis relatif stabil dan perbedaan yang drastic dan ekstrim jarang ditemukan.


Botani Praktis

Permasalah dalam survival mengenai masalah Botani Praktis adalah survivor harus mengenal karakteristik alamnya. Karena daerah di Indonesia ini dapat dikelompokan menjadi beberapa zona geografi tumbuhan.

Secara garis besar, tumbuh-tumbuhan dibedakan pada dua hal :
1.Tumbuhan yang dapat dimakan (berguna, mengandung air, dapat dipakai sebagai obat-obatan, dll)
2.Tumbuhan yang berbahaya (beracun).
Tumbuhan Yang Dapat Dimakan
Bagian tumbuhan yang dapat dimakan dan memberikan energi yang cukup adalah umbi (umbi batang / umbi akar), setelah itu baru buah, biji, dan daun.
Ciri umum tumbuhan yang dapat dimakan :
a.Bagian tumbuhan yang masih muda /tunas.
b.Tumbuhan yang tidak mengandung getah.
c.Tumbuhan yang tidak berbulu.
d.Tumbuhan yang tidak berbau kurang sedap.
e.Tumbuhan yang dimakan oleh hewan mamalia.

Langkah-langkah yang perlu bila akan memakan tumbuhan :
a.Makan tumbuh-tumbuhan yang sudah dikenal.
b.Makan jangan hanya satu jenis tumbuhan saja.
c.Sebaiknya jangan memakan tumbuhan yang buahnya berwarna ungu, karena dikhawatirkan mengandung racun alkaloid.
d.Cara memakan buah-buahan yang belum kita kenal adalah dengan mengoleskan sedikit ke bibir dan tunggu reaksinya. Bila tidak ada rasa aneh (panas, pahit) berrati cukup aman.
e.Yan paling baik adalah terlebih dahulu memasak bagian tumbuhan yang akan dimakan.

Contoh tumbuhan yang dapat dimakan :
a.Umbi di dalam tanah : jenis talas, kentang, bengkuang, paku tanah.
b.Bagian batangnya : umbut muda pisang, sagu, begonia.
c.Buah : kelapa, arbei hutan, konyal (markisa hutan), nipah (dirawa)
d.Biji : padi, jagung, biji rumput teki (di Madura), biji saniten yang sudah tua
e.Bunga : turi, pisang.
f.Daun : rasamala, melinjo, babadotan, tespong, antanan.

Tumbuhan Obat,
Dapat dikelompokan menjdai dua :
a.Dimakan/diminum, contoh :
- Bratawali (Anamitra cocculus), tumbuhannya merayap. Terdapat di hutan, di kampung. Batangnya direbus, rasanya pahit. Gunanya obat anti demam, anti malaria, pembersih luka, penambah nafsu makan.
- Keji Beling/ngokilo (Strobilateses). Tumbuhan semak dan di hutan. Ambil daunnya, dimasak untuk obat pinggang dan infeksi/keracunan pada pencernaan.
- Sembung/sembung manis (Blumen Balsmifira). Jenis rumput-rumputan, terdapat di padang rumput yang banyak anginnya. Daunnya diseduh dengan air panas, dapat digunakan untuk sakit panas, sakit perut.

b.Tumbuhan Obat Luar, untuk luka
- Getah pohon Kamboja, untuk menghilangkan bengkak, juga untuk terkilir.
- Air rebusan Bratawali untuk mencuci luka, juga air batang pohon randu (kapuk hutan).
- Daun Sambiloto ditumbuk halus, atau daun Ploso untuk anti sengatan kalajengking.
- Kirinyuh.
Tumbuhan Beracun
- Getah pohon paku putih dapat menyebabkan kebutaan.
- Getah pohon Rengas, ingas/semplop, sangat berbahaya karena merusak jaringan.
- Getah Jambu Monyet menyebabkan gatal-gatal.
- Buah Aren mentah menyebabkan gatal-gatal.
- Kecubung, beracun bila dimakan.
- Rarawean, dapat menyebabkan gatal-gatal dan pedih.
- Daul Pulus dapat menyebabkan gatal-gatal dan panas
- Si Cantik Beracun.
Tumbuhan Berguna Lainnya
- Tumbuhan penyimpan air : tumbuhan beruas (bamboo, rotan, dll), tumbuhan merambat, kantung semar, kaktus dll.
- Tumbuhan pembuat atap/perlindungan : daun nipah, aren, sagu dll.
- Pengusir ular dan serangga : lemo
- Indikator air bersih : tespong, selada air.

Jamur di hutan sebaiknya jangan dimakan karena sulit untuk membedakan Janis yang bias dimakan atau yang beracun, keculai bagi yang sudah ahli, selain itu kadar kalori jamur sangat rendah karena tubuh jamur banyak mengandung air. Pedoman umum untuk menentukan jamur yang dapat dimakan, seperti : tidak berwarna menyolok, tidak bercahaya, tidak memiliki gelang pada tangakinya, tidak berbau memuakkan, tidak memberi efek warna hitam bila disentuh kan ke benda-benda perak.

Pedoman seperti itu sebenarnya terkadang sangat berbahaya. Banyak juga jamur yang mempunyai cirri-ciri diatas justru mengandung racun. Contohnya Amanita phallolder berwarna putih kecoklatan, tidak mempunyai gelang, justru memiliki racun yang mematikan manusia. Amanita Verna dan Amanita virosa yang berwarna berwarna putih bersih memiliki racun yang mematikan. Ketiga jamur itu bila dimakan, setelah 30 menit kemudian akan mengakibatkan perut sakit sekali. Bila tidak dirawat segera, 6 jam kemudian dapat menyebabkan kematian.


Zoologi Praktis


Sebagaian besar hewan pada dasarnya dapat dimakan. Kesulitannya adalah bagaimana cara mendapatkannya. Untuk itu diperlu pengetahuan tentang habitat, dan tingkah laku hewan tersebut.
Untuk menangkap hewan diperlukan keberanian dalam mengambil keputusan, misalnya : hewan selalu mencari air untuk keperluan sehari-harinya. Apabila kita ingin mendapatkan bermacam hewan, harus menuju sumber air. Dalam hal ini kita akan dihadapkan pada satu masalah. Bila di dekat sumber air banyak hewannya berarti juga banyak hewan yang berbahaya bagi kita.

Habitat Hewan
Habitat yang paling banyak jenis hewannya adalah pantai dan laut dangkal. Semakin tinggi permukaan tanah, jenis hewan yang ada semakin sedikit. Jadi bila tersesat digunung dan ingin mencari makanan (hewan), jangan terus naik ke puncak gunung. Lebih baik turun, kemungkinan besar akan menemukan berbagai jenis hewan.

Prilaku Hewan
Prilaku setiap hewan adalah khas. Kapan kita akan mudah menangkap suatu hewan, kapan harus menghindarinya. Pada musim kawin, hewan-hewan biasanya kurang peka terhadap sekelilingnya. Saat seperti inilah yang baik untuk menangkapnya. Burung-burung pindah dari daerah dingin ke daerah panas. Ikan salem atau belut/lindung yang berpindah tempat di sungai dan laut untuk bertelur. Ular yang menjaga telur atau anaknya biasanya bertambah ganas.
Binatang Berbahaya
- Nyamuk di daerah malaria
- Lalat dayak/lalat kerbau (besarnya 2 kali lalat biasa) terdapat dihutan Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya. Bekas gigitannya bengkak dan gatal, bias infeksi.
- Lebah, sengatannya beracun, dalam jumlah besar/banyak dapat mematikan.
- Kelabang, kalajengking. Bekas sengatannya sakit, bengkak. Untuk mengurangi rasa sakit dapat dengan ammonia, tembakau dan sambiloto.
- Pacet, lintah. Menghispa darah, untuk melepaskannya siram dengan air tembakau.
- Ular berbisa : ular Hijjau, ular bakau, ular tanah, ular sendok/kobra, ular belang dll. Umumnya jenis ular berbisa dapat diketahui dengan melihat bentuk kepala (segi tiga), leher relatif kecil, terdapat lekukan antara mata dan hidung, mempunyai gigi bias.

Binatang Yang Berguna
- Hampir semua mamalia dan burung dapat dimakan dagingnya
- Ular, kadal, kura-kuran dapat dimakan.
- Lebah bias diambil madu dan larvanya.
- Cacing dan siput hutan dapat dimakan.
Serpentes (Ophidia)

Di Indonesia banyak sekali jenis ular termasuk yang berbisa. Ular pada umumnya aktif di siang hari. Anggota badan yang banyak digigit adalah tungkai, kemudia jari kaki.
Ular yang banyak menyebabkan kematian antara lain ular tanah (angkistrodon), ular hijau (Trimeresurus), ular Anang, Biludah.

Macam gigi bias :
1. AGLYPHA, tidak mempunyai gigi bias. Contoh : ular Sanca / phyton, ular sawah (umumnya dari keluarga Colubridae).
a.
1.PHISTOGLYPHA, mempunyai gigi bias dibelakang. Contoh : Ular Cincin Mas (Boiga dendrophila), Ular Pucuk/Ular Daun (Dryophis).
2.PROTEROGLYPHA, mempunyai gigi bias di depan, yang efektif untuk menyalurkan bias. Contohnya Elapidae, Hydrophiidae.
3.SOLENOGLYPHA, mempunyai gigi bias di depan dan dapat dilipat. Umumnya gigi bias tersebut besar. Contohnya Crotalidae, Viperridae.

Macam bias :
a.
1.Neurotoksin, yang menyerang jaringan saraf dan bersifat bertentangan dengan tranmisi rangsangan saraf. Menyebabkan kelumpuhan pada alat pernafasan dan rusaknya jaringan otak.
2.Hemotoksin, yang menyerang darah dan system peredarannya. Dapat menguraikan protein, menyebabkan sel darah rusak dan menggumpal.
3.Kardiotoksin, yang diserang adalah otot jantung.
4.Miksotoksin, yang diserang cairan dalamtubuh.
Penanggulangan Gigitan Ular :
1.Korban jangan banyak melakukan gerakan, dan tidak panaik.
2.Luka dibersihkan.
3.Torniket digunakan untuk mencegah kemungkinan menjalarnya bias ke Jantung. Torniket diletakkan antara luka dengan jantung (luka di daerah anggota badan).
4.Ular yang menggigit harus ditangkap dan diketahui jenisnya. Bila berbisa, dapat ditentukan jenis bisanya.
5.Korban dibawa ke puskesmas setempat / rymah sakit terdekat.

Obat yang biasa digunakan untuk menawarkan bias:
1.Aspirin untuk menghilangkan rasa sakit.
2.Vitamin B kompleks dan Paracetamol untuk menghilangkan rasa nyeri dan panas.
3.Antivenin Polyvalent, serum anti bias yang bersifat umum.
4.Antivenin Taipan, serumuntuk gigitan ular Taipan.
5.Antivenin Brown Snake, serum untuk gigitan ular Mulga.
6.Antivenin Papua Black Snake, serum untuk gigitan ular hitam Irian.

MATERI MOUNTAINEERING


Secara bahasa arti kata Mountaineering adalah teknik mendaki gunung. Ruang lingkup kegiatan Mountaineering sendiri meliputi kegiatan sebagai berikut :

1. Hill Walking/Hiking
Hill walking atau yang lebih dikenal sebagai hiking adalah sebuah kegiatan mendaki daerah perbukitan atau menjelajah kawasan bukit yang biasanya tidak terlalu tinggi dengan derajat kemiringan rata-rata di bawah 45 derajat. Dalam hiking tidak dibutuhkan alat bantu khusus, hanya mengandalkan kedua kaki sebagai media utamanya. Tangan digunakan sesekali untuk memegang tongkat jelajah (di kepramukaan dikenal dengan nama stock atau tongkat pandu) sebagai alat bantu. Jadi hiking ini lebih simpel dan mudah untuk dilakukan.

Level berikutnya dalam mountaineering adalah scrambling. Dalam pelaksanaannya, scrambling merupakan kegiatan mendaki gunung ke wilayah-wilayah dataran tinggi pegunungan (yang lebih tinggi dari bukit) yang kemiringannya lebih ekstrim (kira-kira di atas 45 derajat). Kalau dalam hiking kaki sebagai ‘alat’ utama maka untuk scrambling selain kaki, tangan sangat dibutuhkan sebagai penyeimbang atau membantu gerakan mendaki. Karena derajat kemiringan dataran yang lumayan ekstrim, keseimbangan pendaki perlu dijaga dengan gerakan tangan yang mencari pegangan. Dalam scrambling, tali sebagai alat bantu mulai dibutuhkan untuk menjamin pergerakan naik dan keseimbangan tubuh.

Berbeda dengan hiking dan scrambling, level mountaineering yang paling ekstrim adalah climbing! Climbing mutlak memerlukan alat bantu khusus seperti karabiner, tali panjat, harness, figure of eight, sling, dan sederetan peralatan mountaineering lainnya. Kebutuhan alat bantu itu memang sesuai dengan medan jelajah climbing yang sangat ekstrim. Bayangkan saja, kegiatan climbing ini menggunakan wahana tebing batu yang kemiringannya lebih dari 80 derajat! Ouhhh…

Nah, tentu saja mountaineering ini cukup menantang untuk digeluti… selain wahana kegiatannya yang berada di daerah ketinggian pegunungan yang diwarnai dengan tebing lembah, ngarai, ceruk, sungai, dan panorama tiada tara, untuk melakoni mountaineering ini tentu saja dibutuhkan kesiapan fisik yang mantap.

Secara garis besarnya untuk melakoni mountaineering pastikan tubuh kalian dalam kondisi sehat, fit, dan stamina oke. Untuk itu olahraga teratur sangat mutlak. Selain itu, kau harus bebas dari semua phobia akan hal-hal yang berkaitan dengan tempat-tempat tinggi dan punya kesiapan rencana yang mantap!

Peralatan dasar kegiatan alam bebas seperti ransel, vedples (botol air), sepatu gunung, pakaian gunung, tenda, misting (rantang masak outdoor), kompor lapangan, topi rimba, peta, kompas, altimeter, pisau, korek, senter, alat tulis, dan matras mutlak dibutuhkan selain alat bantu khusus mountaineering seperti tali houserlite/kernmantel, karabiner, figure of eight, sling, prusik, bolt, webbing, harness, dan alat bantu khusus lainnya yang dibutuhkan sesuai level kegiatannya.

2. Climbing
Climbing adalah olah raga panjat yang dilakukan di tempat yang curam atau tebing. Tebing atau jurang adalah formasi bebatuan yang menjulang secara vertikal. Tebing terbentuk akibat dari erosi. Tebing umumnya ditemukan di daerah pantai, pegunungan dan sepanjang sungai. Tebing umumnya dibentuk oleh bebatuan yang yang tahan terhadap proses erosi dan cuaca.
Di dalam arti yang sebenarnya memang climbing itu panjat tebing. Tetapi banyak pula orang mengartikan bukan hanya panjat saja dalam kegiatan climbing ini melainkan juga Repling (turun tebing), Pursiking (naik tebing dengan menggunakan tali pursik) dan lain-lain.
Biasanya orang melakukan pemanjatan tebing ini dilakukan dengan konsentrasi yang tinggi, kekuatan tangan, kekuatan kaki, keseimbangan tubuh dijadikan tolak ukur dalam melakukan pemanjatan ini. Panjat tebing bukan hanya di alam tetapi kita bisa di tebing buatan (woll-climbing).
Dalam divisi climbing ini sangatlah mengharapkan peran lembaga STTA dalam melancarkan kegiatannya, yaitu adanya pembuatan woll-climbing. Didalam pembuatan wool-climbing memang memerlukan dana yang cukup besar. Maka dari itu Palastta mengharapkan kerjasama dari pihak manapun untuk dapat bekerja sama dalam pembuatan wool-climbing ini.
3. Rock Climbing

Rock Climbing adalah olah raga fisik dan mental yang mana selalu membutuhkan kekuatan, keseimbangan, kecepatan, ledakan-ledakan tenaga yang didukung dengan kemampuan mental para pelakunya. Ini adalah kegiatan yang sangat berbahaya dan dibutuhkan pengetahuan dan latihan. Olah raga ini juga menggunakan alat-alat panjat yang sangat krusial dan rawan, tetapi dengan teknik dan pengetahuan yang benar, olah raga ini sangat aman untuk dilakukan.

Ice and Snow Climbing
Ice and Snow Climbing adalah olah raga fisik dan mental yang mana selalu membutuhkan kekuatan, keseimbangan, kecepatan, ledakan-ledakan tenaga yang didukung dengan kemampuan mental para pelakunya. Ini adalah kegiatan yang sangat berbahaya dan dibutuhkan pengetahuan dan latihan. Olah raga ini juga menggunakan alat-alat panjat yang sangat krusial dan rawan, tetapi dengan teknik dan pengetahuan yang benar, olah raga ini sangat aman untuk dilakukan.

ALAT CLIMBING

Tali Pendakian
Fungsi utamanya dalam pendakian adalah sebagai pengaman apabila jatuh.Dianjurkan jenis-jenis tali yang dipakai hendaknya yang telah diuji oleh UIAA, suatu badan yang menguji kekuatan peralatan-peralatan pendakian. Panjang tali dalam pendakian dianjurkan sekitar 50 meter, yang memungkinkan leader dan belayer masih dapat berkomunikasi. Umumnya diameter tali yang dipakai adalah 10-11 mm, tapi sekarang ada yang berkekuatan sama, yang berdiameter 9.8 mm.
Ada dua macam tali pendakian yaitu :
Static Rope, tali pendakian yang kelentirannya mencapai 2-5 % fari berat maksimum yang diberikan. Sifatnya kaku, umumnya berwarna putih atau hijau. Tali static digunakan untuk rappelling.
Dynamic Rope, tali pendakian yang kelenturannya mencapai 5-15 % dari berat maksimum yang diberikan. Sifatnya lentur dan fleksibel. Biasanya berwarna mencolok (merah, jingga, ungu).
2. Carabiner
Adalah sebuah cincin yang berbentuk oval atau huruf D, dan mempunyai gate yang berfungsi seperni peniti. Ada 2 jenis carabiner :
Carabiner Screw Gate (menggunakan kunci pengaman).
Carabiner Non Screw Gate (tanpa kunci pengaman)
3. Sling

Sling biasanya dibuat dari tabular webbing, terdiri dari beberapa tipe. Fungsi sling antara lain :
- sebagai penghubung
- membuat natural point, dengan memanfaatkan pohon atau lubang di tebing.
- Mengurangi gaya gesek / memperpanjang point
- Mengurangi gerakan (yang menambah beban) pada chock atau piton yang terpasang.
4. Descender
Sebuah alat berbentuk angka delapan. Fungsinya sebagai pembantu menahan gesekan, sehingga dapat membantu pengereman. Biasa digunakan untuk membelay atau rappelling.
5. Ascender
Berbentuk semacam catut yang dapat menggigit apabila diberi beban dan membuka bila dinaikkan. Fungsi utamanya sebagai alat Bantu untuk naik pada tali.
6. Harnes / Tali Tubuh
Alat pengaman yang dapat menahan atau mengikat badan. Ada dua jenis hernas :
Seat Harnes, menahan berat badan di pinggang dan paha.
Body Harnes, menahan berat badan di dada, pinggang, punggung, dan paha.
Harnes ada yang dibuat dengan webbning atau tali, dan ada yang sudah langsung dirakit oleh pabrik.

7. Sepatu
Ada dua jenis sepatu yang digunakan dalam pemanjatan :
Sepatu yang lentur dan fleksibel. Bagian bawah terbuat dari karet yang kuat. Kelenturannya menolong untuk pijakan-pijakan di celah-cleah.
Sepatu yang tidak lentur/kaku pada bagian bawahnya. Misalnya combat boot. Cocok digunakan pada tebing yang banyak tonjolannya atau tangga-tangga kecil. Gaya tumpuan dapat tertahan oleh bagian depan sepatu.
8. Anchor (Jangkar)
Alat yang dapat dipakai sebagai penahan beban. Tali pendakian dimasukkan pada achor, sehingga pendaki dapat tertahan oleh anchor bila jatuh. Ada dua macam anchor, yaitu :
Natural Anchor, bias merupakan pohon besar, lubang-lubang di tebing, tonjolan-tonjolan batuan, dan sebagainya.
Artificial Anchor, anchor buatan yang ditempatkan dan diusahakan ada pada tebing oleh si pendaki. Contoh : chock, piton, bolt, dan lain-lain.

Senin, 09 November 2009

STRUKTUR ORGANISASI ANGKATAN 'S'

masa bakti 2009/2010
______

pelindung : Drs Khamid Priyanto

pembina : Nur Abyadi s,Ap.
Dedy P.

ketua : Teguh Prasetyo

koordinator lapangan :
* Haris Nugraha
* Annurul Iqbal

sekretaris :
* Mey Rizkyana
* Yeni Rudiyanti

bendahara :
* Anggia Zainur Rahmah
* Dini Restyani


[seksi-seksi]

kegiatan :
* Nina Nurmala S.
* Moh. Yanuar Sri S.

lingkungan hidup :
* Ayu Retno Ningsih
* Kurnia Ratnasari
* Putri Septiani Wulandari

p3k :
* Anggun Ratna Asih
* Fathul Mubharok

perlengkapan :
* Adidya Afandi
* Ulfah Cahyaningsih
* Apriyanto Setyaji

humas :
* Didik Nurbiyantoro
* Rizky Wahyu Nur I.

dekdok :
* G Bayu Ragil S.
* Annisa Yuni Utami

mading :
* Nur Fitriani

Kamis, 05 November 2009

caving dan panjat tebing putih [31 0kt 2009-1 nov 2009]

IKSAPALA sebagai organisasi pecinta alam yang peduli terhadap lingkungan sekitar, terutama ciptaan ALLAH yang begitu indah berupa 'alam' ini..


caving pada hari minggu 1 november 2009 telah dilaksanakan sebagai wujud kami peduli akan lingkungan sekitar. di sertai pengenalan tebing putih yang dilaksanakan sebelum caving tersebut.


berangkat pada tanggal 31 oktober 2009 dan bermalam dibasecamp yang cukup nyaman. kami menantikan acara esok pagi.

pagi harinya sekitar pukul 5 pagi kami berolahraga kecil sebagai pemanasan..


setelah itu, 'rockclimbing' sebagai sebutan dari acara awal sebelum caving dimulai.. dengan bekal yang diberikan kepada anggota IKSAPALA oleh pembina (Nur Abiyadi) kami diberi bimbingan untuk melakukan rockclimbing di tebing putih tersebut..
setelah pemberian materi yang dilakukan malam sebelum rockclimb dimulai.. dan akhirnya pada harinya, rockclimb pun berjalan dengan lancar tanpa ada suatu insident-insident yang berbahaya..


setelah rockclimb terlaksana, kami kembali ke basecamp untuk mempersiapkan jalannya caving..
setelah siap segala perlengkapan telah terpenuhi. kamipun segera bergegas untuk menelusuri goa tersebut.

goa ini terletak di desa Candirengga, kec.Ayah, kab.Kebumen. dengan panjang goa yang dapat ditelusuri 664m.
walaupun kurang menantang tapi kami cukup puas dengan pemandangan digoa ini yang begitu memanjakan pandangan kami. di goa ini banyak stalaktit dan stlakmid yang begitu menarik, seperti: stalaktit yang menyerupai semar, payudara, baju putih, dkk..


setelah kurang lebih 3jam perjalanan kami pun kembali dengan rasa puas dan kagum dengan kekayaan alam negeri ini. betapa indah nan megah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa..

Rabu, 07 Januari 2009

SELAMAT DATANG ANGGOTA BARU



Diksar dah kelar prennnnn.........


selamat datang anggota baru angkatan S/XIX........!!!!!!!
Diksar selama 3 hari 2 malam dilaksanakan di dukuh dakah ds.karangsambung kec.karang sambung.
diikuti oleh 18 calon anggota muda..........

bergelut bersama kelamnya perbukitan paras dan mengerikannya malam 1 suro.
IKSAPALA menggelar acara Diksar tiap tahunnya dan untuk tahun ini bertepatan dengan tanggal 27-29 desember 2008. Pak Gube dan Mas Dedhi langsung terjun memberikan materi PA yang OK punya.....
meskipun yang namanya kendala tetap saja ada, namun kita juga tetep sukses mengalungkan slayer di leher para anggota muda IKSAPALA.

SELAMAT buat angkatan LC IKSAPALA..............!!!!
perjuangan belum usai...........

Jumat, 05 Desember 2008

informasi


bentar lagi diksar.......


buat jun2 iksa dimohon mulai mempersiapkan segala sesuatunya....

checklist akan segera terpampang di mading............!!!!!!


IKSAPALA

Kamis, 28 Agustus 2008


PANJAT TEBING - INTRODUKSI

Olah raga memanjat tebing sebenarnya merupakan bagian dari Mountaineering yang majemuk. Namun demikian pada masa sekarang, belum ada sumber yang menyebutkan kapan dimulai, panjat tebing seolah-olah berdiri sendiri. Terlepas dari Mountaineering. Maka muncullah para tokoh yang menspesialisasikan pada kegiatan memanjat tebing semata, antara lain, Patrick Edlinger dari Perancis, ataupun Royal Robins dari Amerika, dan banyak lagi lainnya.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa orang yang melakukan kegiatan Mountaineering harus pula bisa memanjat tebing. Tetapi, seorang pemanjat tebing tidak harus menginjakkan kakinya di puncak gunung. Memang agak sulit menerima pendapat ini. Apalagi sekarang ini, orientasi pemanjat tebing bukan hanya lintasan yang sulit namun sudah berorientasi ke puncak gunung yang bertebing. Maka sebaiknya hal ini tidak usah dipermasalahkan. Yang jelas, olah raga panjat tebing terus berkembang sebagai olah raga "mahal", karena nyawa sebagai taruhannya, yang bisa dilakukan sendiri ataupun bagian dari Mountaineering.

Dalam olah raga ini, penemuan lintasan baru merupakan buah penemuan yang patut dihargai. Tanpa harus mempersoalkan sulit atau tidaknya lintasan yang ditemukan. Walaupun secara umum lintasan baru itu dianggap mudah, namun terdapat perbedaan yang menyolok sekali antara si pemanjat yang sedang menyabung nyawa di lintasan itu dengan orang lain yang memberikan penilaian terhadap lintasan itu sambil duduk santai di warung kopi ataupun di teras rumah.

Seperti halnya olah raga lain yang berbahaya maka pada diri seorang pemanjat tebing juga dituntut keberanaian, ketelitian, kemampuan berpikir, dan bertindak dalam pada saat kritis, kekuatan fisik yang baik, dan penguasaan terhadap teknik yang benar. Tanpa semua aspek tersebut maka pemanjatan tebing merupakan arena "bunuh diri" semata.

Betapa bahagianya seorang pemanjat tebing yang berhasil melewati lintasan tanpa mendapat cidera sedikitpun. Barangkali, kebahagiaan ini bisa dianalogikan dengan kebahagiaan penerjun payung yang berhasil membuka payung dan menginjak bumi kembali pada sasaran.

=====================================================
Dikutip dari buku: " Memanjat Tebing Menggapai Langit - Pelajaran Rock Climbing Bagi Pemula dan Lanjutan"

Penerbit: Pustaka Grafiti Utama - 1987

PANJAT TEBING - LATIHAN FISIK

Page: 1/2
(767 total words in this text)
(1058 Reads)

PANJAT TEBING - LATIHAN FISIK

Pada prinsipnya olah raga memanjat tebing (rock climbing), olah raga yang menuntut kekuatan dan ketahanan otot tubuh. Selain itu, faktor lain ialah keberanian, ketenangan, kelenturan tubuh, dan teknik yang benar. Memanjat tebing melibatkan hampir seluruh otot tubuh. Mulai dari otot jari, otot lengan, otot punggung, otot perut, sampai otot kaki.

Untuk melatih seluruh otot tubuh dan mempertinggi daya tahan, diperlukan program latihan yang teratur dan berkesinambungan. Dengan program ini diharapkan kekuatan (strength) dan daya tahan (endurance) atlet pemanjat (climber) bertambah baik secara bertahap.

Salah satu cara terbaik untuk menambah kekuatan dan daya tahan yang biasa dilakukan oleh atlet pemanjat tebing ialah berlatih lari teratur dengan menerapkan program latihan yang telah disusun. Penulis mempunyai suatu program latihan yang hasilnya cukup memadai dan pernah diterapkan ketika mempersiapkan pendakian pegunungan Alpen yang pertama, 1985, dan yang kedua, 1986. Secara teratur penulis latihan lari pada siang hari dengan jarak yang bervariasi.

Mengapa siang hari? Pada siang hari lapisan udara dipermukaan tanah ataupun jalan aspal menjadi lebih renggang dibandingkan dengan lapisan udara diatasnya akibat sinar matahari. Ini berarti kadar oksigen juga menipis. Keadaan ini sama dengan keadaan di gunung yang tinggi. Pada gunung yang tinggi sering kali diperlukan tabung oksigen untuk membantu pernapasan.

Dengan berlatih siang hari maka paru-paru akan dipaksa bekerja lebih keras menghisap udara berkadar oksigen rendah. Pemaksaan ini menyebabkan kemampuan paru-paru dalam menghisap udara semakin besar. Peningkatan kemampuan paru-paru berpengaruh terhadap daya tahan organ tubuh manusia. Semakin banyak kadar oksigen dapat dihisap dan diedarkan ke seluruh jaringan tubuh melalui proses pembakaran, semakin baik daya tahan tubuh seseorang.

Tabel Program Latihan Lari

Jarak (meter)

Waktu (menit)

Frekuensi/Minggu

1600

8.30 - 9.30

1x

2400

12.00 - 13.00

1x

3200

17.00 - 18.00

1x



Mengingat olah raga ini menuntut kekuatan otot tubuh, terutama tangan, maka selain berlatih lari juga diperlukan latihan memperkuat otot. Caranya ialah dengan latihan beban (weight training). Latihan beban dapat dilakukan dengan dua cara :

1. memanfaatkan berat tubuh sendiri seperti pull-up, push-up, dan bergelantungan dengan kedua tangan.
2. dengan bantuan peralatan seperti barbel dan dambel.

Untuk lebih mudahnya, ikuti petunjuk latihan beban dibawah ini yang disusun dalam satu seri latihan dengan selang istirahat 2 menit untuk setiap jenis latihan yang dilakukan. Diharapkan, setelah menjalankan program ini selama beberapa waktu, jarak istirahat semakin diperpendek. Dan latihan dapat dilakukan lebih dari dua seri, sampai akhjirnya kemampuan tangan dalam menahan beban semakin besar.

Program latihan bagi para pemula

jenis latihan

banyaknya

selang istirahat

pull-up

5x

2 menit

push-up

10x

2 menit

sit-up

10x

2 menit

PANJAT TEBING - LATIHAN FISIK

Page: 2/2
(767 total words in this text)
(1059 Reads)



Setelah merasa mampu, tingkatkan latihan beban dengan cara mempersingkat selang istirahat dan memperbanyak tiap jenis latihan. Kemudian buatlah beban untuk latihan
pull-up. Beban ini bisa diuat dari pasir yang dimasukkan ke kantong atau besi pemberat yang diketahui beratnya.

Gantungkan dengan tali ke tubuh setiap kali latihan pull-up. Guna latihan ini untuk melatih kemampuan otot tangan dalam mengangkat beban berat. Latihan dilakukan bertahap dengan berat beban yang semakin bertambah.






















Selain lari dan latihan beban, ada sebuah metode latihan yang efektif yaitu dengan membuat tebing tiruan dari batu yang ditempelkan pada dinding ataupun dengan melubangi dinding. Inilah yang disebut dengan Climbing Wall, memanjat tembok.

Climbing Wall merupakan sarana latihan yang mudah dibuat dan bermanfaat untuk melatih keseimbangan, menambah kekuatan otot, daya tahan, dan meningkatkan ketrampilan pemanjat tebing. Dengan Climbing Wall seseorang dapat meningkatkan frekuensi berlatihnya mengingat Climbing Wall dapat dibuat di sembarang dinding. Baik dinding kamar ataupun dinding pagar.


Yang perlu diperhatikan dalam membuat Climbing Wall, yaitu penempatan batu dan lubang pada dinding. Hendaknya diusahakan agar Climbing Wall yang dibuat tidak hanya melatih satu gerak memanjat yang monoton. Variasi penempatan batu dan lubang akan lebih terasa manfaatnya.

Meskipun frekuensi berlatih di Climbing Wall tinggi namun jangan lupa bahwa cara terbaik untuk memanjat tebing ialah memanjat tebing yang sesungguhnya.Climbing Wall ganya berperan sebagai penunjang. Kesulitan yang didapat di Climbing Wall dapat diatur menurut selera pembuat tentu berlainan dengan kesulitan di tebing yang sesungguhnya.

=====================================================
Dikutip dari buku: " Memanjat Tebing Menggapai Langit - Pelajaran Rock Climbing Bagi Pemula dan Lanjutan"
Oleh:
Wiyanto Wongso Suhardjo
Penerbit: Pustaka Grafiti Utama - 1987

DASAR MEMANJAT TEBING

Page: 1/10
(1869 total words in this text)
(886 Reads)

DASAR MEMANJAT TEBING

Sebagian orang berpendapat bahwa kaki merupakan titik utama yang harus diperhatikan dalam memanjat tebing. Sebagai contoh, ketika menaiki anak tangga yang disandarkan di dinding dengan posisi miring. Disini kedua tangan boleh dikatakan hanya berfungsi sebagai alat keseimbangan tubuh. Posisi ini membuat kedua tangan tidak menerima beban berat tubuh.

Jika kekuatan kedua tangan dipergunakan untuk menaiki anak tangga, artinya memberi beban pada keduatangan tanpa peduli akan tumpuan kedua kaki di anaktangga yang sudah stabil, maka dalam jarak yang tidakterlalu jauh tenaga akan terkuras habis dan tangan menjadi tegang.

Prinsip ini juga berlaku pada waktu memanjat tebing. Kebanyakan pemula cenderung mempergunakan kedua tangan sebagai titik tumpuan yang utama tanpa percaya pada kedua kaki sebagai penumpu berat tubuh di tebing. Yang perlu diperhatikan oleh para pemula ketika memanjat tebing ialah kombinasi antara kekuatan tangandengan penempatan titik keseimbangan. Gunakan sebaik mungkin setiap hold (pegangan, pijakan) yang ada.

Batasi penggunaan tangan hanya untuk pengatur keseimbangan tubuh. Kecuali pada tempat tertentu yang menuntut kekuatan tangan semata. Penempatan kaki yang baik bukan saja menghemat tenaga, tapi juga menjadikan gerakan si pemanjat lebih indah dipandang mata.

DASAR MEMANJAT TEBING

Page: 2/10
(1869 total words in this text)
(887 Reads)




Sebagai pemula, berlatihlah di tebing yang tidak terlalu curam dan rendah. Untuk menjaga keamanan, pastikan bahwa batuannya tidak labil, tidak mudah runtuh. Berlatihlah secara teratur dan hati-hati; ini yang penting diperhatikan. Biasanya pemula cenderung untuk tergesa-gesa dalam bergerak di tebing, akibatnya sering terjadi kecelakaan. Selain itu, pemula cenderung untuk memanjat tebing yang tinggi karena dianggap mudah tanpa menghiraukan sistem pengaman pemanjatan (belaying system). Mereka. pemula, bangga jika dapat mencapai puncak tebing lewat rute mudah tanpa tali pengaman. Padahal inilah kecenderungan yang salah dan berbahaya.

Pada waktu berlatih, pelajarilah cara penempatan kaki pada hold dan crack (rekahan di permukaan tebing). Pertimbangan pertama dalam hat penempatan kaki adalah gerakan selanjutnya. Penempatan kaki yang "pas" akan membantu keseimbangan dan memantapkan ge rakan selanjutnya. Pertimbangan kedua, melalui insting sehingga kita dapat bergerak dengan alami dari hold dan crack yang satu ke yang lain. Gerakan insting ini hanya dapat terangkai dengan baik apabila dilatih terus-menerus dan teratur.

DASAR MEMANJAT TEBING

Page: 3/10
(1869 total words in this text)
(887 Reads)



Jika kebetulan menemui hold yang tipis dan tajam seperti sisi meja, pergunakan sisi sepatu teristimewa jika mempergunakan sepatu khusus panjat tebing sehingga kontak antara kaki dan tebing semakin banyak. Dengan cara ini pula kaki akan lebih rapat ke tebing. Dalam ke-
adaan ini kecenderungan kaki untuk menekuk pada gerakan selanjutnya berkurang sehingga memperkecil kemungkinan terpeleset.

Pada tempat yang membulat dan miring (rounded), usahakan agar tumit tetap rendah dan. di bawah horisontal hold semacam itu. Posisi ini akan membuat pijakan semakin mantap dan subil karena gaya gesek tapak sepatu menjadi maksimal. Untuk itu, latihlah tumit dengan cara berjingkat-jingkat atau membengkok-bengkokkannya.




Cara berpijak pada hold yang miring

Untuk melatih tangan dan kaki pada hold yang tipis, carilah slab (tebing licin dan hampir rata tetapi tidak curam) agar mampu menguasai teknik penggunaan tangan dan kaki pada berbagai macam bentuk dan ukuran hold.

Pemula cenderung meraih hold atau crack yang terlalu jauh dan di luar jangkauan normal, akibatnya ia harus "ngotot" dan mengeluarkan banyak tenaga. Tidak jarang keseimbangan menjadi terganggu. Jika kaki atau tangan digerakkan terlalu jauh bukan tidak mungkin titik keseimbangan tergeser, karena tumit ikut terangkat.Akibat lebih jauh dati tergesernya keseimbangan, terpaksa "terjun" bebas ke bawah.

DASAR MEMANJAT TEBING

Page: 4/10
(1869 total words in this text)
(887 Reads)




Bagi pemula meraih pegangan yang terlalu jauh bisa berakibat fatal

Seorang pemanjat yang baik dapat diibaratkan gerakannya sebagai gerakan seekor kucing tanpa bersuara dan cekatan.Jika kita sudah mampu Inelakukan itu, hal ini berarti sudah melakukan hal yang benar. Untuk bergerak seperti itu, pilihlah hold dengan hati-hati. Kemudian tempatkan kaki dan tangan pada posisi yang benar serta mantap, tanpa menimbulkan suara berisik, tanpa kegaduhan, dan tanpa melakukan gerakan yang tidak perlu.

Ada "aksioma" yang berlaku dalam olahraga panjat tebing, yaitu "tiga kuat satu mencari". Tiga dimaksudkan sebagai tumpuan yang kuat di tebing dan satu sebagai pencari tumpuan. Dua tangan berpegang kuat dan mantap, satu kaki berpijak dengan mantap pula. Posisi seperti ini memungkinkan satu kaki yang lain bergerak untuk mencari pijakan. Untuk memindah kan tangan, maka dua kaki berpijak dengan mantap dan satu tangan berpegang kuat. Begitulah seterusnya.

Sebelum bergerak, pastikan bahwa posisi sudah mantap. Pada posisi seperti ini jika salah satu pijakan atau pegangan terlepas oleh suatu hal, keseimbangan tubuh masih terjaga kecuali jika posisinya "dua kaki satu tangan", maka pegangan terlepas, akan mengakibatkan kecelakaan. Ini penting diperhatikan karena pemula sering membua( gerakan yang tidak perlu, sehingga kehilangan keseimbangan dan bisa berakibat fatal.

Untuk melatih agar trampil ddlam mempergunakan tangan dan kaki, berlatihlah di slab atau di tebing yang banyak terdapat crack, meskipun crack dan hold yang kita jumpai hanya cukup untuk menempatkan ujung sepatu.

Bicara tentang jenis pegangan dan pijakan, maka crack merupakan jenis yang terbaik buat pemanjat tebing. Crack bisa terjadi pada permukaan tebing karena proses alami. Crack yang terjadi bisa miring, horisontal dan vertikal. Namun demikian, kesulitan dapat terjadi pada waktu mempergunakan crack sebagai pijakan. Kaki yang terjepit sukar dilepaskan dari crack ketika akan bergerak naik atau menyamping (traverse). Apalagi jika crack itu miring dan sepatu terjepit dengan keras oleh gerakan kita di crack. Untuk itu penempatan kaki pada crack perlu diperhitungkan dengan cermat.

DASAR MEMANJAT TEBING

Page: 5/10
(1869 total words in this text)
(887 Reads)




Teknik Menuruni Tebing

Meskipun kita mempelajari berbagai teknik memanjat, namun yang tidak boleh dilupakan ialah teknik menuruni tebing dengan merayap. Ini perlu, mengingat pada kasus tertentu kita "dipaksa" oleh tebing untuk melakukan gerakan turun ini. Tanpa berlatih khusus teknik menuruni tebing, suatu saat kesulitan akan menghadang ketika kita.menuruni tebing yang telah kita panjat. Kesulitan ini karena tidak dapat melihat hold atau crack di bawah kita.

Untuk dapat menuruni tebing, posisi tubuh harus dijaga agar tetap seimbang. Agar lebih mudah, bergeraklah ke samping. jangan tegak lurus, sebab akan sulit melihat hold atau crack di bawah kita. Gerakan menyamping ini lebih aman daripada langsung ke bawah meskipun kadang-kadang sulit untuk menempatkan kaki pada hold atau crack. Apalagi jika tebing cukup curam.

Berlatih menuruni tebing, lebih-lebih yang sulit, akan menambah kepercayaan terhadap diri sendiri. Pada suatu saat ketika memanjat rute yang sulit, kita terpaksa turun lagi dengan merayap untuk beristirahat atau mengatur strategi pemanjatan selanjutnya, jarang ada pemanjat yang dapat melewati rute sulit dengan sekali "gebrakan". Penempatan kaki, pegangan dan pengaman memerlukan strategi yang baik agar gerakan memanjat dapat "terangkai" dengan baik.

DASAR MEMANJAT TEBING

Page: 6/10
(1869 total words in this text)
(887 Reads)



Jika tidak terbiasa dengan latihan ini biasanya pemanjat akan grogi lebih-lebih di medan yang belum dikenalnya manakala cuaca tiba-tiba berubah buruk, misalnya.

Pentingnya penggunaan kaki sudah cukup untuk di ketahui. Kini kita beralih dengan penggunaan tangan.

Fungsi Tangan

Fungsi tangan tidak kalah penting daripada kaki. Secara alami tangan sudah terlatih sejak kecil untuk memegang. Ini yang memungkinkan tangan lebih cepat dapat dilatih daripada kaki.

Pada latihan, usahakan sebanyak mungkin menggunakan seluruh jari tangan untuk memegang atau menekan, karena pada suatu saat kita akan dihadapkan pada situasi di mana hold atau crack hanya cukup untuk dua jari. Tanpa latihan yang baik kesulitan ini akan menghambat gerakan selanjutnya.

Selagi memanjat, batasi jangkauan tangan agar keseimbangan tidak terganggu. Tentu saja suatu saat kita harus menjangkau hold atau crack yang cukup jauh. Pada situasi seperti ini bergeraklah dengan hati-hati. Pastikan bahwa pijakan dan pegangan sudah mantap.

Pemula lebih cenderung mempergunakan kekuatan tangan untuk memanjat tanpa memperhatikan penting nya penempatan kaki. Meskipun kaki tetap berpijak tetapi biasanya "ngambang". Apalagi jika pijakannya kecil. Hal ini disebabkan ketidak yakinan untuk berpijak. Akibat hal ini, tangan cepat kehabisan tenaga.

Yang penting untuk diperhatikan oleh para pemula pada waktu memanjat ialah bagaimana menempatkan kaki, pegangan dan menjaga keseimbangan agar kelelahan pada tangan dapat teratasi.

DASAR MEMANJAT TEBING

Page: 7/10
(1869 total words in this text)
(887 Reads)



Dalam pemanjatan terdapat bermacam-macam teknik yang lazim dipergunakan dalam menghadapi medan tertentu, yaitu:

Handholds

Hold ada bermacam-macam bentuk, ukuran dan posisi. Yang perlu diingat, kemampuan mengkombinasikan gerakan memanjat dengan mempergunakan handhold dan foothold (pijakan kaki) dengan baik dan benar, sesuai dengan titik keseimbangan posisi yang dihadapi pada saat itu.

Pegangan terbaik bagi pemanjat, jika keseluruhan jaritangannya dapat berpegang. Pegangan semacam Ini disebut handhold atau jug handle. Pegangan semacam ini
menambah keyakinan si pemanjat untuk bergerak lebih lanjut. Memang bisa dikatakan pegangan semacam inilah yang merupakan "surga" bagi pemanjat tebing.

Fingerholds

Hold yang lebih kecil dari handhold, dimana jari-jari hanya menempel kira-kira satu ruas, disebut fingerhold. Pada fingerhold usahakan merapatkan jari-jari ke permukaan tebing dengan man up, sehingga seluruh kekuatan dapat terpusat ke ruas jari yang berpegangan pada hold. Cara ini mencegah jari-jari terpeleset dari hold.

Pinchgrip

Pada suatu ketika akan ditemui jenis pegangan yang untuk memegangnya harus "mencubit" dengan menekankan jari-jari dan ibu jari pada arah yang berlawanan.
Biasanya pinchgrip berada pada posisi miring dan vertikal.

Undercling

Dasar teknik ini, tekanan tangan dan kaki pada arah yang berlawanan. Tangan berpegang pada "bibir" crack atau tonjolan batu yang menghadap ke bawah dengan tarikan ke atas. Sementara itu kaki menekan dengan mantap di dinding tebing. Akibat tarikan tangan yang memberi gay a ke atas kaki dapat tertekan ke dinding tebing. Untuk bergerak lebih lanjut, jaga agar posisi ini tetap mantap sebelum tangan yang satu dilepas untuk mencari pegangan yang lain.

Yang perlu diperhatikan pada posisi ini, ialah titik keseimbangan. Usahakan sedemikian hingga titik keseimbangan tetap terkontrol meskipun hanya dengan satu tangan yang memberi gaya tarikan.

DASAR MEMANJAT TEBING

Page: 8/10
(1869 total words in this text)
(887 Reads)

Jamming

Pada tebing-tebing batu sering dijumpai crack yang terlalu lebar untuk dapat dipakai sebagai pijakan atau pegangan. Untuk mengatasi crack semacam ini dipergunakan teknik khusus yang disebut jamming. Dasar teknik ini dibagi dua: jepitan tangan (hand jam) dan jepitan kaki (foot jam). Dengan cara menempatkan kaki atau tangan ke dalam crack agar terjepit, maka akan timbul gaya gesekan antara kaki atau tangan dengan tebing. Cara menempatkan kaki atau tangan tergantung pada kondisi crock itu sendiri.

Layback

Teknik ini dipergunakan pada crack vertikal ataupun tonjolan vertikal di tebing yang cukup panjang. Prinsip teknik ini hampir sarna dengan undercling, hanya saja lebih banyak tenaga yang terkuras akibat panjangnya medan yang harus dilalui.

Gerakan kaki dan tangan harus berirama. Artinya, gerakan hanya satu per satu dan kompak. Jika tangan bergerak, maka yang lain tetap di tempat. Setelah tangan mantap berpegang, satu per satu kaki digerakkan keatas.

Meskipun teknik ini menguras tenaga, namun suatu saat akan diperlukan. Untuk itu latihlah teknik layback ini. Tidak harus di tebing, di pagar besipun bisa dilakukan. Dan kalau diteliti dengan cermat, sesungguhnya banyak sarana dapat kita pergunakan untuk berlatih. Baik itu di rumah, di gedung sekolah maupun di cabang pohon, cabang yang kuat. Hilangkan kebiasaan menuntut fasilitas yang sempurna untuk latihan. Yang terpenting ialah semangat.

DASAR MEMANJAT TEBING

Page: 9/10
(1869 total words in this text)
(889 Reads)



Chimney

Pada kondisi tertentu akan dijumpai sebentuk cerobong (Chimney) di tebing. Untuk dapat memanjatnya dipergunakanlah teknik khusus yang disebut chimney.Prinsip gerakannya, memanfaatkan tekanan antara anggota tubuh dan tubuh ke dinding tebing. Untuk lebih
mudah, pelajarilah gambar di disamping.

DASAR MEMANJAT TEBING

Page: 10/10
(1869 total words in this text)
(889 Reads)

Bridging

Jika chimney yang terbentuk terlalu lebar, maka dipergunakan teknik lain yang disebut bridging. Prinsip teknik ini, memberikan tekanan pada dinding chimney. Sedikit demi sedikit tubuh digerakkan ke atas sampai chimney ini terlewati

=====================================================

Dikutip dari buku: " Memanjat Tebing Menggapai Langit - Pelajaran Rock Climbing Bagi Pemula dan Lanjutan"
Oleh:
Wiyanto Wongso Suhardjo
Penerbit: Pustaka Grafiti Utama - 1987

MEMANJAT DENGAN TALI PENGAMAN

Page: 1/9
(977 total words in this text)
(481 Reads)

MEMANJAT DENGAN TALI PENGAMAN

Setelah mempelajari teknik memanjat dan menggunakan berbagai jenis pengaman kini anda siap untuk berlatih memanjat dengan mempergunakan tali pengaman. Tali yang dipergunakan biasanya berdiameter 9 mm atau 10 mm. Ada juga yang mempergunakan tali 11 mm. Kedua ujung tali dibuat simpul 8. Simpul pertama digabungkan ke harness orang yang akan bertindak sebagai leader. Simpul kedua digabungkan ke garness orang yang akan menjadi belayer. Perhatikan! Karabiner yang dipergunakan sebagai pengait harus berkunci. Dengan demikian belayer dan leader tergabung dalam satu tali tanpa ada risiko terlepas satu sarna lain.

Sebelum leader bergerak naik, terlebih dahulu belayer harus membuat anchor dengan piton, chock,atau natural anchor. Anchor yang dibuat harus mampu menahan hentakan ke atas jika leader terjatuh. Atau jika sudah berada pada ketinggian tertentu, anchor harus pula diperhitungkan untuk menahan beban hentakan dari atas dan tarikan ke bawah.



Anchor yang dibuat tanpa mempertimbangkan kedua hal diatas dapat membahayakan kedua pemanjat. Peralatan yang dibawa oleh leader hendaknya disesuaikan dengan lintasan yang dipanjat. jangan terlalu memberatkan tubuh dengan membawa peralatan yang tidak perlu. Rajinlah berlatih. Karena dengan sendirinya anda akan dapat meramalkan jumlah dan jenis peralatan yang seharusnya dibawa.

MEMANJAT DENGAN TALI PENGAMAN

Page: 2/9
(977 total words in this text)
(482 Reads)
Setelah anchor terhambat dengan kuat barulah leader mulai memanjat. Berilah pemberitahuan terlebih dahulu kepada belayer agar ia siap menjaga anda. Pilihlah hold yang memungkinkan untuk bergerak dengan seimbang dan pasti. Berkonsentrasilah pada apa yang sedang anda lakukan. Bergeraklah dengan hati hati.

Jika sudah berada 2 atau 3 meter di atas belayer segeralah pasang runner untuk mengamankan gerakan selanjutnya. Masukkan main rope ke dalam karabiner yang terpasang.

Pada saat memasukkan main rope, perhatian harus terpusat pada pegangan yang hanya satu tangan. Setelah main rope terkait barulah leader sedikit lebih am an dari beberapa menit sebelumnya. Jika ia tiba-tiba terjatuh, ia tidak lagi akan menghempas dasar tebing di bawahnya. Belayer akan mengamankan dengan tali yang sudah ditahan oleh sistem pengaman yang dipergunakannya.

Pemasangan runner yang ideal untuk keamanan berjarak 2 atau 3 meter satu sama lain. Misalnya jarak dari runner terakhir 3 meter, maka jika leader terjatuh jarak ini di kali dua dan ditambah jarak akibat lenturan tali dan tali yang kendur. Jika runner tersebut ambrol maka jarak jatuh akan bertambah dua kali dari jarak runner dibawahnya.

MEMANJAT DENGAN TALI PENGAMAN

Page: 3/9
(977 total words in this text)
(482 Reads)


Untuk itu, segeralah memasang runner tanpa harus memperhitungkan mudah sulitnya lintasan. Pada lintasan mudahpun bahaya tetap mengancam. Baik karena terpeleset, tertimpa batu, pegangan ambrol, atau pun terkejut oleh tokek, ular, dan kalajengking yang kerap ditemui di tebing-tebing. Setiap kali memasang runner periksalah terlebih dahulu apakah sudah cukup am an dengan cara menyentakan dari berbagai arah. Setelah yakin dengan kekuatannya barulah leader bergerak ke atas.

Pemasangan runner harus memperhatikan lancar tidaknya main rope agar gerakan tidak terganggu. Salah satu cara untuk memperlancar main rope ialah dengan memanjat pada lintasan yang lurus. Atau, jika lintasan tidak lurus, usahakan menjaga tali agar tetap lurus dengan menambahkan webbing atau sling.

Pilihlah lintasan yang tidak terlalu sulit sebelum menguasai teknik pemanjatan dengan baik. Berlatihlah terus. Sedikit demi sedikit alihkan latihan pada lintasan yang semakin sulit. Yang penting, penguasaan teknik dahulu. jangan tergiur untuk memanjat ke tebing yang tinggi sebelum kemampuan teknis anda cukup memadai.

MEMANJAT DENGAN TALI PENGAMAN

Page: 4/9
(977 total words in this text)
(482 Reads)

Setelah mencapai suatu teras tidak harus sepanjang tali akhirilah pemanjatan. Segeralah buat dua atau lebih anchor untuk mengamankan anda dan rekan yang akan naik.


Pastikan bahwa anchor itu mampu menahan berat badan anda berdua. Setelah aman beritahulah rekan anda untuk naik. Kini anda yang bertanggung jawab atas keselamatannya. Tariklah tali sedemikian hingga tegang, karena akan.memberi keleluasaan rekan anda sewaktu mencabut piton atau chock yang terpasang. Selain itu, juga untuk menjaga aga ia tidak terlalu jauh bila terjatuh. Tali yang kendur akan menyentak dengan keras apabila tiba-tiba rekan anda jatuh.

MEMANJAT DENGAN TALI PENGAMAN

Page: 5/9
(977 total words in this text)
(482 Reads)


Dalam panjat tebing dikenal istilah yang berfungsi sebagai kode atau pemberian aba-aba yang disebut "climbing calls". Sedikit banyak ini penting diketahui sebab komunikasi antara leader dan belayer haruslah tepat dan jelas terdengar serta singkat. Komunikasi yang tidak lancar bisa berakibat fatal bagi keduanya. Di bawah ini diberikan istilah yang penting untuk diketahui bukan dimaksudkan untuk gagah-gagahan oleh pemanjat tebing. Walaupun bahasa kita mungkin bisa dipergunakan, tapi tidak berlaku universal.

Off Belay: Teriakan leader untuk memberitahukan pada belayer bahwa ia sudah tidak memerlukan pengamanan dari belaayer lagi. Leader sudah memasang anchor dan aman.

Belay Off: Jawaban belayer terhadap "off belay". Kini, ia boleh melepas anchor belay.

Slack: Kendurkan tali. leader atau belayer bisa mempergunakan istilah ini untuk mengendurkan tali pada kasus tertentu.

Up Rope / Pull: Kencangkan tali. Leader atau belayer memberi kode agar tali ditegangkan.

Taking In: Leader berteriak untuk menyatakan bahwa ia menarik tali ke atas (biasanya setelah leader sampai di teras, tali masih bersisa beberapa meter).

That's Me: Jawaban orang kedua apabila tali telah habis sampai mentok di harnessnya.

On Belay: Leader memberi kode pada orang kedua bahwa ia sudah diamankan.

Climb (Climb When You're Ready): Leader memerintahkan orang kedua untuk memanjat sambil bersiap mengamankannya.

Climbing: Leader (orang kedua) memberi kode bahwa ia siap memanjat.

OK: Orang kedua (leader) siap mengamankan pemanjatan.

MEMANJAT DENGAN TALI PENGAMAN

Page: 6/9
(977 total words in this text)
(482 Reads)

Dalam pemanjatan kadang-kadang puncak tebing dapat dijangkau oleh panjang tali standar (45m). Tetapi, kadang-kadang tali tidak mencukupi karena puncak tebing lebih dari panjang tali standar.

Untuk itu, ada dua teknik dalam pemanjatan. Yang pertama, Single Pitch Climbs (pemanjatan tahapan tunggal atau satu tahap) dan Multi Pitch Climbs (pemanjatan secara bertahap).

Untuk lebih jelas, pelajarilah gambar di bawah ini

MEMANJAT DENGAN TALI PENGAMAN

Page: 7/9
(977 total words in this text)
(482 Reads)

MEMANJAT DENGAN TALI PENgaman


MEMANJAT DENGAN TALI PENGAMAN











































































=====================================================
Dikutip dari buku: " Memanjat Tebing Menggapai Langit - Pelajaran Rock Climbing Bagi Pemula dan Lanjutan"
Oleh: Wiyanto Wongso Suhardjo
Penerbit: Pustaka Grafiti Utama - 1987





TEKNIK TURUN TEBING

Page: 1/4
(468 total words in this text)
(407 Reads)

TEKNIK TURUN TEBING

Bayangkan kini anda berada di puncak tebing yang curam. Untuk turun, tentu tidak merayap kembali. Suatu teknik yang dipergunakan untuk menuruni tebing dengan memanfaatkan gaya gesekan, baik tubuh, maupun alat bantu khusus, disebut rapelling atau juga abseiling.

Teknik ini perlu dipelajari dengan sungguh-sungguh. Banyak pendaki yang tewas sewaktu menuruni tebing dengan repelling. Biasanya karena kelalaian dalam pemasangan anchor

Sebelum yakin anchor yang terpadang kuat jangan turun dahulu. Ceklah achor dengan menggantunginya beberapa saat dengan pengaman tali pada anchor lainnya. Setelah yakin barulah tali dilempar ke bawah. Buatlah simpul pada ujung tali yang dilempar agar apabila tidak sampai ke permukaan tanah atau teras, anda tetap tertahan oleh simpul tadi.

Teknik pertama, teknik yang klasik. Tali langsung berhubungan dengan tubuh. Untuk itu diperlukan pakaian yang tebal agar tubuh tidak lecet atau mendapat luka bakar. Teknik ini perlu diketahui karena siapa tahu peralatan yang anda bawa terjatuh semua. Teknik ini disebut Classic rappel/Body rappel.


[gbr130]


TEKNIK TURUN TEBING

Page: 2/4
(468 total words in this text)
(408 Reads)



Teknik kedua mempergunakan sling dan sebuah karabiner. Sling dikaitkan pada paha kemudian kaitkan sebuah karabiner. Setelah itu, tali dimasukkan ke dalam karabiner.

Untuk mengontrol lajunya, tali dilewatkan dari puncak. Teknik ini disebut sling rape.


[gbr131]

TEKNIK TURUN TEBING

Page: 3/4
(468 total words in this text)
(408 Reads)


Sebuah teknik lagi, masih ada teknik lain, yang penting diketahui, teknik menuruni tebing dengan alat bantu khusus Figure Eight Descender atau jenis lainnya (Allain Descender atau Fameau Descender).


[gbr132]


TEKNIK TURUN TEBING

Page: 4/4
(468 total words in this text)
(408 Reads)



Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menuruni tebing;

1. Bawalah sepasang tali dengan diameter 5 atau 6 mm. Gabungkan tiap tali dengan simpul nelayan sehingga terbentuk loop. Kalungkan di leher. Apabila tali yang dituruni tergantung pada overhang atau tidak sampai ke dasar tebing, anda dapat mempergunakannya sebagai prusik guna meniliti tali naik ke atas kembali.

2. Buatlah simpul pada ujung tali. Apabila oleh suatu hal anda tidak dapat mengontrol kecepatan turun, simpul itu akan menyelamatkan anda.

3. Orang yang turun pertama kali setelah sampai pada teras atau dasar tebing harus mencek apakah tali dapat ditarik ke bawah. Kadang-kadang tali terjepit di celah yang dilewatinya atau karena penempatan anchor yang salah.

4. Turunlah secara perlahan-perlahan. jangan melompat-lompat seperti pasukan komando. Gerakan berlebihan bisa mempengaruhi kekuatan anchor dan dapat berakibat fatal. Selain itu, dengan bergerak perlahan, anda akan lebih mudah mengontrol titik pendaratan.

5. Gerakan selalu karabiner yang berkunci agar lebih aman. Karena apabila tali membelit karabiner biasa ia akan terbuka.

6. Untuk keamanan, gunakan sling atau webbing yang masih kuat pada anchor.

Rapelling, teknik yang sangat penting sebagai pembendaharaan pemanjat tebing ataupun pendaki gunung. Selain itu, juga cepat, menyenangkan, dan aman apabila berhati-hati.

Berlatihlah pada tebing yang tidak terlalu curam dan tidak terlalu tinggi. Gunakan selalu sepasang sarung tangan agar telapak tangan tidak terbakar.

=====================================================
Dikutip dari buku: " Memanjat Tebing Menggapai Langit - Pelajaran Rock Climbing Bagi Pemula dan Lanjutan"
Penerbit: Pustaka Grafiti Utama - 1987

SAFETY 1: PENGGUNAAN PENGAMAN ALAM

Page: 1/3
(406 total words in this text)
(359 Reads)


Dalam suatu pemanjatan, perhatikanlah keadaan permukaan tebing dengan teliti.
Kemungkinan akan dijumpai yang disebut Natural Runner di sana-sini yang dapat

dimanfaatkan. Pada dinding tebing kadang-kadang terdapat sejenis pohon dengan akar yang "tertanam" kuat di sela-sela atau rejahan tebing. Pohon ini dapat dipergunakan sebagai Natural anchor (tambatan alam) dan Natural runner.

Untuk mempergunakannya, pilihlah pohon yang berdiameter kira-kira minimal 3 cm,
berakar kuat, dan masih hidup. Secara teknis mudah sekali. Anda tinggal mengkaitkan webbing atau sling dan mengkaitkan sebuah karabiner atau biasa disebut cincin kait. Kemudian masukkan tali utama ke dalam cincin kait itu.

Pada rekahan tebing sering pula dijumpai sebuah pecahan batu tebing terjepit dengan kuat (chock stone). Proses ini terjadi secara alami. Pada rekahan yang menyempit ke bawah sebuah pecahan batu tebing terselip dan dengan sendirinya berada pada posisi yang ideal untuk dipakai sebagai pengaman.

Jika anda memutuskan untuk mempergunakan chock stone ini, perhatikan benar-benar apakah batu yang terjepit tidak goyah oleh sentakan ke bawah kalau anda terjatuh dan jenis batuannya cukup keras sehingga tidak pecah terkena beban jatuh.

Untuk membuat pengaman prinsipnya sama dengan pengaman alam jenis pohon tersebut di atas. Bisa juga dengan cara lain. Tergantung kondisi yang anda hadapi. Untuk itu seorang leader harus kreatif dan di samping faktor lain seperti terampil, terlatih, berani, dan sebagainya.

SAFETY 1: PENGGUNAAN PENGAMAN ALAM

Page: 2/3
(406 total words in this text)
(360 Reads)




Pengaman alam bisa juga dibuat dari tonjolan pada permukaan tebing yang cukup kuat.

Biasanya pada permukaan tebing terdapat horn (tonjolan, tanduk), yang ideal untuk dipakai sebagai pengaman. Meskipun tidakcukup meyakinkan tonjolan kecil masih lebih baik daripada tidak sama sekali.



Suatu ketika dapat terjadi horn yang dijumpai tidak terlalu menonjol dan membulat.

Untuk mengatasi hal ini pergunakan webbing dan ikatan dengan erat agar tidak tergeser dari kedudukannya ketika anda bergerak naik. Karena geseran ikatan dapat terlepas dengan sendirinya, sehingga fungsinya sebagai pengaman hilang.


[gbr-63]

SAFETY 1: PENGGUNAAN PENGAMAN ALAM

Page: 3/3
(406 total words in this text)
(360 Reads)





Tunnel (lubang tembus) dapat terjadi pada tebing-tebing kapur limestone karena
pengaruh perubahan cuaca dan angin. Pada lubang tembus ini pengaman dapat dibuat asal terlebih dahulu diketahui kekuatan batuannya. Masih sering dijumpai lubang tembus ambrol ketika tersentak beban jatuh.



Meskipun anda telah terlatih dalam mempergunakan natural runner atau natural anchor namun hati-hatilah agar risiko kecelakaan dapat diperkecil. lebih-lebih untuk para pemula, yang biasanya cenderung kurang teliti dalam memilih runner yang baik.

=====================================================
Dikutip dari buku: " Memanjat Tebing Menggapai Langit - Pelajaran Rock Climbing Bagi Pemula dan Lanjutan"

Penerbit: Pustaka Grafiti Utama – 1987







SAFETY 2: PENGGUNAAN CHOCK

Page: 1/5
(648 total words in this text)
(328 Reads)

Sesungguhnya, penggunaan chock sebagai runner pemanjatan tebing mengandung nilai seni yang tinggi. Dengan piton seseorang dapat pula memanjat, tapi dengan sedikit rasa takut, sedikit seni, dan sedikit ketrampilan, meskipun palu yang menghantam mata piton menimbulkan suarabukan merupakan larangan. Dentingan bising dan seolah-olah merupakan suatu paksaan dalam usaha manusia untuk menaklukkan tebing yang dihadapinya. Jika penggunaan piton dalam suatu pemanjatan tebing dibatasi, berarti seseorang itu telah melakukan permainan yang lebih tinggi nilainya daripada menggunakan piton.

Penggunaan chock hanya sebagai pengaman, lain tidak. Sebagai contoh, kita tidak begitu mengalami kesulitan ketika menemui rekahan di tebing berukuran tertentu. Dengan bong (sejenis piton bersudut) rekahan ini mudah diatasi; karena toleransi ukuran bong cukup besar. Tapi dengan mempergunakan chock, gerakan si pemanjat harus lebih-hati-hati dan dengan perhitungan matang, karena pemasangan pengaman jenis ini tidak semudah memasang piton. Kita harus berpikir dua kali sebelum meninggalkan chock yang telah kita pasang sebagai pengaman.


[gbr-69]

SAFETY 2: PENGGUNAAN CHOCK

Page: 2/5
(648 total words in this text)
(329 Reads)




Biasanya para pemula kurang hati-hati dalam menyisipkan chock pada rekahan tebing.

Sehingga sering terjadi chock terlepas dari tempatnya. Di sinilah letak bahayanya; chock tidak lagi berfungsi sebagai pengaman. Untuk mengatasi hal ini salah satu cara yang baik, berlatih dan berlatih dalam menggunakan chock sebagai pengaman. Agar tidak mengudang bahaya yang lebih besar, sebaiknya latihan pemasangan chock dilakukan di tebing yang tidak terlalu tinggi dan banyak memiliki cacat batuan atau rekahan.

Banyak pemanjat tebing yang hanya menggunakan ,chock dalam suatu pemanjatan. Karena menurutnya dengan piton, tebing akan rusak atau cacat dan tidak lagi sesuai dengan keadaan aslinya.

Dengan hanya menggunakan chock sebagai pengaman berarti pada si pemanjat akan dituntut ketelitian, kemahiran, keberanian, dan juga keyakinan untuk dapat mengatasi setiap lintasan yang dipilihnya sendiri.


[gbr-70]

SAFETY 2: PENGGUNAAN CHOCK

Page: 3/5
(648 total words in this text)
(329 Reads)




Ada juga pemanjat tebing yang menggunakan piton dalam pemanjatan, tapi dibatasi hanya pada keadaan di mana chock tidak lagi bisa digunakan sebagai pengaman.

SAFETY 2: PENGGUNAAN CHOCK

Page: 4/5
(648 total words in this text)
(329 Reads)





Meskipun chock sudah terpasang dengan benar dan batunyapun cukup kuat untuk dapat menahan beban jatuh, namun masih ada beberapa permasalahan penting yang perlu mendapatkan perhatian dari seorang leader.

Yang pertama, tubuh. Mengapa? Ketika anda telah memasang chock dengan benar dan cukup kuat untuk menahan beban jatuh, tiba-tiba terlepas akibat terangkat ke atas oleh tali utama. Untuk mengatasi hal ini maka perlu ditambahkan sebuah webbing agar gerakan tubuh ke atas tidak mengganggu kedudukan chock.



Yang kedua, lenturan tali. Seaktu leader terjatuh, tali melentur terkena beban tubuh. Akibat lenturan ini, chock dapat terangkat dan terlepas dari kedudukannya. Untuk itu chock harus diberi back-up (kekuatan tambahan) pada tempat tertentu yang diperkirakan hal ini dapat terjadi, sehingga jika lenturan menyebabkan chock terlepas, masih ada kekuatan cadangan yang menyelamatkan ieader dari bahaya yang lebih fatal.


[gbr-72]

SAFETY 2: PENGGUNAAN CHOCK

Page: 5/5
(648 total words in this text)
(329 Reads)




Yang ketiga, karena tegangan (drag) tali. Ini terjadi jika penempatan chock menyebabkan tali membentuk diagonal satu sama lain atau zig-zag. Karena zig-zag, maka tegangan tali akan menarik chock yang telah terpasang sehingga dapat lepas dari posisinya.



Setiap chock mempunyai nomor urut sesuai dengan ukurannya. Nomor 1 untuk chock yang terkecil dan seterusnya. Ini dimaksudkan untuk memudahkan leader dalam memi!ih ukuran chock yang sesuai dengan besarnya rekahan dan juga memudahkan berkomunikasi dengan "Belayer" (orang yang mengamankan). Pada keadaan tertentu, leader akan lebih mudah menyebut nomor yang dimintanya daripada harus menyebutkan besarnya atau ukurannya.

Memasang chock sebagai pengaman harus diperhatikan benar-benar jenis bantuan dan lebar sempitnya rekahan. Jika pemasangan chock sudah benar dan batuannyapun cukup kuat, maka masih ada kelemahan lain yang menyebabkan kecelakaan, yaitu tali baja atau sling pengikat chocknya terputus oleh suatu sebab. Untuk itu dianjurkan selalu memeriksa semua peralatan yang akan dipergunakan memanjat tebing.

Chock yang mempunyai standar UIAA (Union International des Associations d'Alpinisme), yaitu suatu badan yang mengadakan standarisasi untuk peralatan mountaineering yang berkedudukan di Prancis, dijamin keamanannya jika dipergunakan secara benar dan terawat dengan baik.

=====================================================
Dikutip dari buku: " Memanjat Tebing Menggapai Langit - Pelajaran Rock Climbing Bagi Pemula dan Lanjutan"

Penerbit: Pustaka Grafiti Utama - 1987

Peralatan Panjat Tebing

(373 total words in this text)
(645 Reads)


Sebagai pemula, Anda akan dipusingkan seputar nama-nama aneh dari peralatan panjat.
Artikel ini menyajikan fungsi dari peralatan panjat, setelah membacanya anda akan
mengetahui perbedaan antara; nuts dan cams, friends dan carabiner, dan lainnya.

Belay Device (Peralatan untuk Belay)


Belay Device adalah peralatan untuk menahan tali saat pemanjatan
agar pemanjat tidak terjatuh. Banyak versi yang biasa dipakai,
yang paling sering dipakai adalah ATC, Figure 8, dan Grigri.







Cam atau Friends

Spring Loaded Camming Device (SLCD) atau biasa disebut cam atau
friends adalah peralatan proteksi pemanjatan yang fenomenal,
diciptakan oleh Ray Jardine seorang aerospace engineer yang
senang manjat pada tahun 1973. Jika ditarik, ujungnya akan mengecil
sehingga mudah dimasukkan ke celah tebing. Jika dilepas ujungnya
akan mengembang memenuhi celah tebing. Cam tersedia dalam beberapa
ukuran disesuaikan dengan lebar celah tebing.


Carabiner
Ada banyak jenis carabiner, setiap jenis memiliki fungsi tersendiri
dalam pemanjatan.

Carabiner HMS memiliki kunci (screw) sebagai pengaman, dipakai
sebagai anchor pada top roping dan juga dipakai oleh belayer.


Carabiner D atau Oval dan Snap (Snapring) digunakan untuk keperluan
lain seperti untuk dipakai bersama dengan cam dan draw.



Quickdraw atau Runner

Adalah pasangan webbing atau sling dengan dua buah carabiner jenis
snapring, dipakai sebagai alat proteksi di tebing.



Hexes

Adalah pasangan sling dengan tabung alumunium (titanium) segi enam.
Berfungsi sama dengan cam, berharga lebih murah, tetapi lebih sulit
dalam penempatannya di celah tebing. Seperti cam. hexes tersedia dalam
beberapa ukuran.


Nuts

Nuts adalah peralatan proteksi yang paling banyak dipakai oleh pemanjat
tebing, fungsinya sama dengan cam dan hexes dengan harga lebih murah.



Tricams

Adalah peralatan proteksi pemanjatan, walaupun berbeda bentuk tetapi
fungsinya sama dengan nuts. Pemakaiannya relatip sulit, tidak dianjurkan
dipakai untuk pemula.





Silahkan klik link dibawah untuk mengetahui lebih jauh peralatan panjat lainnya:
http://www.rockclimbing.com/gear



-Pendaki Jompo-




Chock dan Friend

(528 total words in this text)
(258 Reads)


Chock adalah alat yang digunakan dalam pemanjatan tebing yang dimasukkan ke celah batu dengan jari tangan sehingga terjepit dan dapat menahan beban dari arah tertentu. Bagi sementara pemanjat tebing, penggunaan chock lebih menarik dan menyenangkan dibandingkan piton. Alat ini ringan dan mudah dipasang dan dilepaskan, dan kadang-kadang memberikan pengaman yang lebih baik daripada piton (misalnya pada batuan lepas atau batuan serpih).

Ada yang berpendapat bahwa piton memisahkan manusia dengan alam. Pemakaian piton menyebabkan si pemanjat merasa dijauhkan dari tebing. Dengan piton, seorang pemanjat bisa melampaui tebing batu dengan sedikit keterampilan, sedikit seni dan sedikit ketakutan. Sedangkan chock seseorang ditantang untuk menggunakan seni sebagi pengganti pemaksaan dalam usaha memanjat tebing. Irama pemanjatan menjadi lebih alamiah, karena tidak terusik oleh suara dentingan piton dan palu. Penggunaan alat ini mempunyai dampak yang positif sehubungan dengan etika pemanjatan yang disebut pemanjatan bersih (clean climbing) karena cenderung mengurangi kerusakan pada tebing batu.

Secara garis besar chock mempunyai tiga bentuk yaitu bulat, segi enam dan baji. Chock yang berbentuk baji disebut pula stopper, sedangkan chock yang berbentuk segi enam disebut juga hexentrik atau hex.

Untuk menghubungkannya dengan karabiner, chock dilengkapi dengan sebuah ikalan (loop) tali, pita webing, atau kabel kawat. Panjang ikalan ini ditentukan berdasarkan tujuan dan selera pribadi si pemanjat tebing. Ikalan yang panjang biasanya digunakan untuk chock yang berukuran besar, dan ini baik untuk pemanjatan bebas (free climbing), karena dapat memenuhi kebutuhan dalam sistem penempatan runner yang benar. Ikalan panjang memudahkan si pemanjat membawa chock itu dengan mengalungkannya dileher.

Ikalan pendek pada chock terutama menguntungkan dalam pemanjatan artifisial, karena si pemanjat tebing dapat berdiri lebih tinggi dan dekat dengan chock sebagai titik tumpuannya. Kendati masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihannya, tetapi baik ikalan panjang maupun ikalan pendek dapat disesuaikan dengan kebutuhan pada saatnya. Ikalan panjang (terutama dari tali dan webing) dapat dipendekkan dengan pembuatan simpul, sedangkan ikalan pendek dapat diperpanjang dengan menggunakan runner tambahan (karabiner atau webing).

Ikalan chock dengan tali kelihatannya lebih indah, karena lubang tersedia memang untuk ukuran tali. Akan tetapi chock dengan webing menguntungkan dalam pemakaiannya, karena bisa menyelip dicelah batu yang sempit. Tali dan webing kekuatannya kira-kira sama. Tetapi karena perrmukaannya lebih lebar maka webing lebih gampang tergesek batu sehingga kekuatannya dapat berkurang.
Chock dengan ikalan dari kabel kawat mempunyai beberapa keuntungan dibanding dengan chock berikalan tali atau webing. Chock berikalan kabel kawat lebih mudah diletakkan dan dilepaskan dari dalam celah. Selain itu karena kaku dan keras, chock berikalan kabel kawat bisa diletakkan dicelah batu beberapa centimeter lebih tinggi dari daya

jangkau tangan seorang pemanjat tebing. Kelemahan chock ini adalah mudah lepas oleh sentakan tali ke arah yang tidak tepat atau sesuai dengan arah semestinya.
Sering kali pemanjat tebing tidak bisa menemukan ukuran chock yang tepat untuk pelbagai celah batu, kendati dia telah membawa chock pilihan. Chock memang tidak dapat digunakan disetiap celah batu. Berdasarkan keterbatasan ini, maka diciptakanlah sebuah alat penjepit yang disebut friend. Kelebihan dari alat ini adalah dapat menyesuaikan ukuran bentuknya agar bisa digunakan pada berbagai celah batu.

Friend mampu memperingan beban si pemanjat tebing. Akan tetapi ada pula yang berpendapat bahwa alat ini adalah suatu kemunduran, karena pemakainnya hanya membutuhkan sedikit perasaan dan keterampilan sama seperti piton. Dianjurkan agar memantapkan penempatan pengaman chock terlebih dahulu, sebelum memutuskan memakai friend.

Sumber : mendaki gunung “Norman Edwin”









anda pengunjung ke